Ibu..
Engkau inspirasiku..
Aku berkelena ke ujung dunia
Bayangmu selalu ada disampingku
Secerca harapan darimu
Ku jadikan pedoman di setiap langkahku
Dalam doamu selalu tersebut namaku
Kau tameng dalam hidupku
Kau penyemangat terbaik dalam hidupku
Kau bagai malaikat tanpa sayap untukku
Engkau segalanya untukku
Aku tanpamu bagai angin tanpa arah
Engkau bagai lautan samudera
Tempat mencurahkan segala kegundahan hati
Ibu...
Terimakasih atas kasih sayangmu
Terimakasih atas perjuanganmu
Terimakasih atas perhatianmu
Terimakasih atas setiap tetesan keringat yang tercurah untuk anakmu
Terimakasih atas pengorbananmu
Ibu..
Maafkan amarahku
Maafkan keegoisanku
Maafkan kenakalanku
Maafkan aku atas airmatamu
Ibu.. engkau cahaya penerang dalam hidupku
Jika orang bertanya padaku siapa pahlawanku? Pastilah engkau Ibu jawbanku..
Just For You emak :)
Rahmanizar
Senin, 21 September 2015
Minggu, 13 September 2015
Merindukan Mentari Pagi
Dingin pagi yang menyentuh
tubuh ini membuatku terbangun dari baringan tidur, aku tahu sudah waktunya aku
bangun dari tidurku tapi sisa letih kemarin masih terasa hingga membuat mata
ini susah dibuka dan tubuh ini pun juga ikut-ikutan tidak mau bangkit dari
kasur. Waduh…cepat kali ya paginya, perasaan baru tidur (pikiranpun mulai
bicara). Tak lama setelah itu terdengar suara merdu yang berasal dari surau
yang tak jauh dari rumahku. Aku dorong perasaan malas ini untuk bangun dengan mengambil
air wudhu untuk melaksanakan kewajiban ku kepada Sang Maha Pencipta. Doaku
hanya satu, Tuhan berikan senyum terbahagia kepada orang tuaku di tahun ini,
Aamiiiin.
Saatku buka pintu jendela dari
rumahku paling atas, untuk menghirup udara pagi ternyata aku salah, aku lupa
mentari pagi sejak Bulan Agustus kemarin sedang bersembunyi dari tebalnya kabut
asap yang berasal dari ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Aku
pun tak bisa menikmati udara segar seperti sebelumnya. Oh, sungguh betapa besarnya
nikmatmu yang selama ini aku rasakan, tapi itu malah disia-siakan oleh manusia
yang tak mengerti, hingga aku merasa kecewa olehnya. Tuhan, aku merindukan mentari pagi
yang cerah seperti dulu lagi.
Gemercik air dikamar mandi
mengajakku untuk membersihkan raga ini, hingga aku cepat-cepat untuk mandi dan
bersiap-siap pergi untuk berangkat
kekampus. Jam 12.00 siang nanti ada janjian sama dosen buat nyelesain masalah
Lap. Magang. Oke, pagi ini aku berangkat lebih cepat dari yang dijanjikan sama
dosenku, kusandang tas dan kubawa lembaran-lembaran masa depan ini. Setiba
ditepi jalan saat aku nunngu angkot aku bersemangat melangkahkan kaki ini masuk
kedalam. Berharap semangat yang kubawa ini berbuah manis saat ketemu dosen
nanti, J
Saat ditegah perjalanan, paling
kesal banget dapet jalan berdebu bekas orang perbaikin jalan, udah gitu juga
jalannya ombang ambing serasa mau keluar isi perut ini. Huffft…..bau debu
sangat menyengat hidung ini, buat batuk ini menjadi-jadi. Ya,ampunn…nih jalan
kapan selesai-selesainya ya, terus-terusan gini aku malah gak tahan penegen
marah aja bawaannya.
Ku sadari cuaca cerah emang
gak berpihak saat ini, aku merindukan mentari pagi yang mengiringi langkahku
kemana pergi. Dia bisa membuatku tersenyum di tengah-tengah kota yang serakah
ini. Saat melangkah ada langit biru yang dapat kupandangi setiap pagi karena
dia sang mentari pagi yang begitu mencerahkan hari-hariku.
Kembalilah wahai Sang Mentari
Pagi yang dapat membuat hari-hariku cerah, secerah warna langit itu.
Oleh:
Rahmanizar
Langganan:
Komentar (Atom)